Rabu, 21 Maret 2012

Untukmu yang Sedang Patah Hati


Pernah nggak kamu ngerasain patah hati karena putus cinta yang begitu menyakitkan?

Sampai-sampai terasa dunia tak bermatahari lagi, tak perlulah ada bulir-bulir nasi atau tetesan air putih mengalir lewat kerongkongan... Selera makan musnah seketika menyadari kenyataan bahwa seseorang tidak lagi dekat dengan kita.
1 jam, 2 jam, 7 jam, sehari semalem (udah termasuk ekstrim ini) yang kamu kerjain cuma  nangis sambil berpikir dengan akal yang ngga' lagi jernih, gmana bisa jernih jika tercampur dengan emosi yang meluap-luap. Berpikir mengapa hubungan kasihmu dengan seseorang "Prince charming" bisa berakhir, dengan cara yang pahit, dicampakkan!!!
Pernahkah kawan?
Kalau aku, dengan jujur kukatakan PERNAH

Kejadiannya sekitar akhir tahun 2010 lalu. Seseorang yang kurasa perfect itu, ehmmm... kita sebut saja "Andika".
Buatku waktu itu, yang sedang mencari sosok pria yang memenuhi kriteria sebagai calon suamiku, agamis, enak diajak ngobrol, pinter, dan cukup enak buat dilihat (ga harus ganteng :p), Andika adalah sosok yang memenuhi itu semua, hanya saja dia walaupun telah bekerja namun belum lulus dari kuliahnya. Hanya satu pengecualian itu, sudahlah, ga ada yang perfect-perfect banget, begitu bisikku dalam hati. Rupanya pesonanya benar-benar memikatku. Tak jarang aku menyempatkan diri pulang naik pesawat yang dalam sekali perjalanan PP harus membeli 4 tiket pesawat, belum lagi taxi dan biaya hotel hanya untuk ketemu dia saat week end. Demi rasa rindu yang ingin kucurahkan secara langsung, karena biasanya kami hanya berkomunikasi lewat sms, telpon, chatting, atau video-call Skype. Harusnya tak bisa kubilang 'hanya', karena pernah suatu ketika, kami video call sejak jam 12 malam sampai jam 10 pagi. Hanya tersela untuk ke kamar mandi atau sholat. 

Guys, kami ga pernah jadian, bahkan Andika ga pernah nyatain cinta sama aku. Keterlenaanku waktu itu membuatku tak menyadari bahwa Andika adalah seorang playboy. Semua itu terbukti setelah 2 bulan kami intens berkomunikasi dan beberapa kali bertemu (bahkan pernah menginap bersama di sebuah Hotel), Andika menyatakan bahwa dia ga bisa nerusin hubungan sama aku, dan mencari-cari alasan untuk membuatku merasa bersalah dan layak untuk ditinggalkan.
Bener-bener sakitnya saat itu kawan, karena aku seperti telah mulai menancapkan salah satu tiang penyangga hidupku padanya, jika hidupku ini adalah sebuah bangunan. Iya guys, aku menyerahkan keperawananku padanya di sebuah malam di bulan November 2010. Dosa yang tak terasa pahit waktu itu, karena aku berpikir pendek, aku 1000% percaya bahwa Andika akan jadi suamiku, bahwa dia adalah jodohku, bahwa dia adalah yang selama ini kucari. Tiada penyesalan selama beberapa minggu setelah kejadian itu karena akal sehatku belum kembali. 

Hingga suatu ketika, Andika membatalkan pertemuan kami di sebuah rumah makan cepat saji di kotanya, hanya 3 menit sebelum aku sampai di tempat janjian itu. Sementara aku udah bela-belain menempuh perjalanan lebih dari 100 km sembari ngebut dan melawan kemacetan luar biasa. Dan sejak saat itu, dia tak pernah sekalipun menunjukkan sosoknya di hadapanku, beraktifitas di FB, bahkan akun twitternya pun dia hapus. Andika yang tadinya sangat eksis di dunia maya itu, menghilang begitu saja, tak menyisakan sedikitpun jejak untukku mengetahui kabarnya sekarang. Oh ya, terakhir yang aku tahu dari stalking teman dekatnya di FB, ternyata dia kembali sama mantannya. Mantannya itu seorang wanita muda, rekan bisnisnya, seorang ibu muda dengan anak berusia TK, dangan seorang suami! Jadi, dia adalah orang ketiga di antara pasangan suami istri itu. Sedih melihatnya, sekaligus menyadarkanku, bahwa ANDIKA IS A PLAYBOY. Dan setelah itu, satu lagi jejak tidak langsungnya kutemukan dari website kampusnya yaitu dia baru lulus beberapa bulan lalu.

Kesedihanku tak berlangsung lama. Yang paling parah sekitar sehari semalam saja. Setelah beradu mulut dengannya di telepon pada suatu sore di ruangan tersembunyi di sudut kantorku, aku menangis tersedu-sedu. Salah satu seniorku membujukku untuk tenang dan mengantarku pulang pada saat menjelang maghrib. Sesampainya di kos, aku bahkan tak berhenti menangis, tak pula makan, tak sholat, hingga aku tertidur dan terjaga keesokan harinya. Astaghfirullah.... betapa mengerikannya emoosiku saat itu. Ketika aku menatap cermin, entah dengan bisikan setan atau apa, yang jelas bukan nuraniku karenaa nurani itu selalu baik dan tenang, seperti ada bara api di bola mataku, dan aku berkata pada diriku sendiri, "Aku akan membalasmu, Andika".

Namun kawan, dendam itu nyatanya tak bisa kupelihara, Allah teramat sayang padaku. Beberapa minggu kemudian, aku bertemu dengan sebuah komunitas dzikir, dua kali seminggu pada malam selasa dan malam jumat. Sebelum resmi bergabung pun, aku harus memahami seperti apa komunitas itu, dengan cara berdialog, diskusi, dan selanjutnya adalah semacam 'baiat' yang berupa rangkaian sholat wudhu, sholat taubat, dan sholat malam...... Semenjak itu kawan, perlahan-lahan, aku mulai menyadari bahwa kesdihan yang aku alami tentang Andika adalah sebuah cobaan yang mengarahkanku kembali pada sang Maha Pencinta. Sakit memang, namun kepahitan itu mulai terasa lenyap seperti setelah kita minum jamu langsung kita minum air gula. Ya! Hilang begitu saja.

Dzikir itu yang melembutkan hatiku, mengingatkan aku lagi dengan cara yang amat syahdu, bahwa kecintaan yang tak menyakitkan, yang sempurna adalah cinta pada Allah, Sang Maha Pengasih dan Penyayang. Berkat cintanya, yang jauuuuuuhhhhh sekali melebihi cinta paling sejati di dunia (cinta ibu pada anaknya) . Mengapa kukatakan begitu, karena lihat saja ibu kita, ketika kita berbuuat kesalahan yang melukai hatinya, beliau bahkan tak membalas kita dengan luka yang serupa. Ibu justru mengingatkan kita bahwa kita telah bersalah, Ibu memaafkan kita dan menggiring kita kembali menjadi anak yang seharusnya. Tak peduli betapa sering kita menjawab panggilannya begitu lama walaupun telah diulang beberapa kali, betapa kali kita lambat saat disuruh sholat atau membantu beliau membersihkan rumah, betapa kali kita membantahnya dan berkata "Ah!", dan betapa seringnya kita berbohong sedang les padahal kita sedang pacaran atau jalan-jalan sama teman sekolah.

Kawan, luka itu sembuh. Rasa takutku untuk bisa menemukan seseorang yang sebenarnya kucari selama ini pun hilang dengan mudahnya. Aku penuh dengan optimisme. Aku semakin rajin berdzikir dan membaca-baca artikel maupun membaca (menyimak) pengalaman hidup orang lain tentang jodoh. Dan keyakinanku pun semakin kuat, bahwa jodohku sudah ada, sudah tertulis sejak di Lauhul Mahfudz, dan dia akan kutemukan pada saat yang paling tepat. Apakah dia orang yang baik, ya tentu saja jika aku baik. 
"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji , dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik . Mereka  itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka . Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia."
(An Nuur 24:26)
dan sejak saat itu, aku makin giat berusaha memperbaiki diri.

Tak lama sejak kejadian putus hubunganku dengan Andika, tepatnya pada pertengahan Januari 2011, aku bertemu secara tidak sengaja dengan seorang teman lama, mantan pacar dari sahabatku dulu, sebut saja Chandra. Sudah sekitar 6 tahun kami tak bertemu, dan memang kami sama-sama sebatas tahu namun tidak akrab. Awalnya ada sedikit kekhawatiran tentang statusnya yang adalah mantan pacar dari sahabatku. Tapi keraguan itu sirna dengan sendirinya setelah aku tahu bahwa sahabatku sebentar lagi akan menikah dengan orang lain. Dan dia berkata bahwa selama 6 tahun berpacaran dengan Chandra, tak pernah ada sesuatu yang membuatnya menyimpulkan bahwa Chandra bukan lelaki yang baik.

Oke, aku tak menyampaikan niatku pada sahabat lamaku itu bahwa aku mungkin akan mendekati Chandra. Dan benar saja, semuanya terjadi begitu cepat. Setelah beberapa minggu intens sms an atau komunikasi lewat FB, aku mendapat tugas selama beberapa hari di Jakarta, di mana kami (aku dan Chandra) beberapa kali bertemu untuk saling menjajaki. Dan pada akhir penugasan itu, dia memberiku kenang-kenangan, dia menyatakan keseriusannya untuk menikah denganku. Kemudian berturut-turut pada bulan-bulan selanjutnya adalah lamaran dan balasan keluarga, persiapan pernikahan, menikah, dan hari ini, buah cinta kami sudah berusia hampir satu bulan. Alhamdulillah... :)

Oiya, hanya beberapa minggu setelah pernyataan keseriusannya itu,  aku pernah memberinya sebuah ujian yang aku yakin ga semua pria agamis, sopan, mapan, dan pintar seperti Chandra bisa lulus dengan mudah. Kau tahukah apa ujian itu?
Di suatu pagi hari Minggu yang sejuk karena baru saja ditimpa hujan hingga subuh, kami sedang berolahraga pagi di sekitar kampusku dulu. Suasananya begitu menyenangkan, kondisi lingkungan ramai, tapi tak satupun orang mengenal kami. Semua orang sibuk menikmati hari Minggu pagi. Dalam perjalanan daari warung kopi susu menuju mobil di parkiran pinggir jalan, aku memulai ceritaku. Bahwa ada sesuatu tentang diriku yang belum sempat belum berani kusampaikan, namun harus dia ketahui sebelum kami benar-benar menikah. 

Chandra semakin penasaran, diajaknya aku masuk ke mobilnya. Dengan sedikit tertunduk dan setelah mengucap bismillah di dalam hati, aku berkata, "I'm no more virgin......."
Pria muda berbadan tegap itu tak bereaksi melotot, marah, atau bertanya lagi. Tidak. Dia diam, bahkan dia memegang pundakku dan berkata, tenangkan dirimu. Lalu mobil pun bergerak perlahan-lahan menuju arah selatan. Sepertinya Chandra sedang mengemudi sambil berpikir dan menimang-nimang pernyataanku sebelumnya, "Aku tak ingin mencurangimu karena engkau orang yang baik. Aku berusaha jujur dan aku siap dengan resikonya, masih ada waktu jika engkau ingin membatalkan pernikahan kita...". 

Aku tak tahu konflik apa yang sedang terjadi dalam batinnya, aku memang meneteskan beberapa bulir air mata, namun sejatinya aku sangat tenang dan lega setelah mengatakan itu semua. Dan tentu saja aku tahu, bagi seorang lelaki sepertinya yang berprinsip cinta itu menjaga, takkan menyakiti, apalagi 'mencuri' sesuatu yang amat berharga (seperti yang dilakukan Andika padaku), tak mudah untuk menerimaku menjadi istrinya. Tadinya aku sudah pas dengan kriteria istri yang dia cari. Berkerudung, tidak suka bercelana ketat (pesan neneknya), rajin solat, pintar, ramah, dari keluarga baik-baik, dan dewasa. Kini baginya gadis sepertiku seperti kain putih yang telah terkena tetesan darah. Walaupun bisa dibersihkan dengan sabun, tapi pasti ada bekasnya. 

Jawabannya hari itu benar-benar membuatku bersujud syukur dan menangis haru bahagia. Chandra menjawab bahwa itu adalah bagian dari masa laluku. Dia hanya concern pada aku yang sekarang, dan dia membuatku berjanji bahwa tindakan seperti itu tak akan terulang lagi. Juga bahwa dia adalah orang yang sangat setia, begitupun aku harus benar-benar menomorsatukannya setelah kami menikah. Detik itu pun, dari sekedar komitmen antara dua lelaki dan wanita muda yang sama-sama sedang mencari pasangan hidup dengan bekal kesan pertama "Oh ya, dia sepertinya baik untukku", kemudian berubah menjadi cinta. Hari demi hari pun aku temukan bahwa dia adalah seorang anak lelaki yang sangat berbakti pada ibunya, kakak yang sangat peduli pada adik-adiknya, dan kawan yang setia kawan, juga pegawai yang pintar dan rajin. Dialah suamiku sekarang. Subhanallah... terima kasih yang tak terkira padamu, Tuhanku yang Maha memasang-masangkan. 

Semoga pernikahan kami senantiasa dalam keberkahan.
Melahirkan anak-anak yang kelak akan lebih baik, jauuuh lebih baik daripada orang tuanya, meskipun zaman makin sulit untuk diajak kompromi dengan budi pekerti dan nilai-nilai reliji.
Suamiku, aku mencintaimu karena Allah...

==========================================================
Untukmu yang sedang patah hati sepertiku dulu, simaklah ini:
Waktu aku kecil, ayahku bercerita: Suatu ketika ada seorang bapak-bapak sedang berjalan-jalan. Tiba-tiba dia melihat seorang anak sedang menangis keras di pinggir jalan. Kemudian bapak itu bertanya kenapa dia menangis. Anak itu menjawab bahwa dia baru saja kehilangan uang 500 rupiah. Untuk menenangkan anak itu si bapak memberinya uang 500 rupiah.

"Sudah, jangan menangis lagi ini uangmu yang hilang tadi saya ganti," kata si bapak.
Anak itu lalu diam dan si bapak beranjak pergi. Tak berapa lama kemudian terdengar suara tangisan anak tadi, bahkan lebih keras. Dengan terkejut si bapak kembali bertanya, "Lho, uangmu kan sudah saya ganti. Mengapa menangis?"
Masih sambil menangis si anak menjawab, "Hk hk hk, kalo uang saya tadi tidak hilang, kan sekarang jadi 1000 hk hk hk."

>>>>>> Kadang-kadang dalam hidup kita, ada sesuatu yang hilang, tapi kemudian sudah diganti oleh Allah (bahkan dengan yang lebih baik). Tapi kita tidak menyadarinya dan masih terbayang-bayang pada apa yang pernah hilang dulu itu. Itulah tabiat manusia, selalu merasa kurang. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang pandai bersyukur. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar